RSS

PENGGUNAAN ANTIBIOTIK YANG TEPAT

18 Mar

What are antibiotics?

Antibiotik (AB) adalah jenis obat kuat yang dapat menghentikan infeksi karena bakteri, yang menyebabkan timbulnya beberapa penyakit (certain illness NOT ALL ILLNESS). Tetapi AB lebih banyak kerugiannya daripada manfaatnya apabila tidak digunakan dengan benar. Kita dapat melindungi diri sendiri dan keluarga kita dari kerugian yang dapat ditimbulkan oleh AB dengan mengetahui kapan kita butuh AB dan kapan tidak perlu.

I. Sejarah dan Jenis AB

Ketika Perang Dunia ke1, banyak sekali tentara yang mati karena infeksi bakteri yang ringan.Hal ini mendorong para peneliti untuk menemukan obat yang dapat menghentikan infeksi bakteri. Lalu pada tahun 1929, AB ditemukan secara kebetulan oleh peneliti asal Skotlandia, bernama Alexander Fleming. Jenis AB yang pertama diproduksi adalah penicillin. Lalu diakhir tahun 1940-an, AB diproduksi secara masal dan banyak digunakan digunakan oleh tentara sekutu diperang dunia ke2. Sejak itu jutaan nyawa terselamatkan dari infeksi bakteri karena penggunaan AB, sehingga banyak yang menganggap AB adalah obat dewa.

Jika ditinjau dari proses pembuatannya, AB dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

1. AB yang merupakan produk alami.

2. AB semisintetik, yang merupakan produk alami tetapi dibuat beberapa perubahan agar lebih kuat sehingga memperluas jenis bakteri yang dapat dibunuh atau untuk mengurangi efek sampingnya.

3. AB full sintetik.

Jika ditinjau dari penggunannya, secara umum AB dapat dibagi menjadi 2, yaitu:

1. Narrow spectrum, berguna untuk membunuh jenis2 bakteri secara spesifik. Mungkin kalau di militer bisa disamakan dengan sniper, menembak 1 target dengan tepat. AB yang tergolong narrow spectrum adalah ampicillin dan amoxycilin (augmentin, surpas, bactrim, septrim).

2. Broad spectrum, membunuh semua jenis bakteri didalam tubuh, atau bisa disamakan dengan bom nuklir. Dianjurkan untuk menghindari mengkonsumsi AB jenis ini, karena more toxic dan juga membunuh jenis bakteri lainnya yang sangat berguna untuk tubuh kita. AB yang termasuk kategori ini adalah cephalosporin (cefspan, cefat, keflex, velosef, duricef, etc.).

II. Bakteri dan Virus

Bakteri adalah mikro organisme yang hidup disekitar kita, didalam air minuman, makanan, tanah, tumbuhan, binatang dan didalam tubuh kita, terutama dibagian pencernaan kita. Kebanyakan bakteri tidak berbahaya bagi kita, bahkan ada beberapa yang berguna untuk mencerna makanan. Salah satu kandungan ASI adalah bakteri. Tetapi ada juga bakteri yang dapat menyebabkan infeksi. Beberapa manfaat bakteri diusus kita:

1. bakteri mengubah apa yang kita makan menjadi nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh.

2. memproduksi vitamin B & K.

3. memperbaiki sel dinding usus yang tua dan sudah rusak.

4. merangsang gerak usus sehingga kita tidak mudah muntah (konstipasi).

5. menghambat berkembang biaknya bakteri jahat jadi secara tidak langsung mencegah tubuh kita dari terinfeksi bakteri jahat.

Bakteri berdasarkan sifat fisiknya dapat dibagi menjadi dua, yaitu gram positif (+) dan gram negatif (-). Infeksi dibagian atas difragma (dada) umumnya disebabkan oleh bakteri gram (+) sedangkan infeksi dibagian bawah
difragma disebabkan oleh bakteri gram (-). Pada umumnya bakteri (+) lebih mudah dilawan.

Virus juga adalah mikro organisme, namun lebih kecil daripada bakteri dan juga dapat menyebabkan infeksi didalam tubuh. Tetapi tidak seperti bakteri yang dapat hidup dimana-mana walaupun diluar tubuh kita, virus hanya dapat hidup dengan menggunakan sel tubuh kita. Sangat penting untuk diketahui bahwa virus tidak dapat dibunuh dengan AB. Virus hanya dapat dibunuh dengan sistem kekebalan tubuh kita sendiri dan demam merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh. Jadi, apabila kita mengalami demam, sebaiknya tidak diberi obat penurun panas apabila demamnya tidak terlalu tinggi, karena dengan demam, virus dapat dibunuh.

III. Kapan kita perlu Antibiotik dan kapan tidak perlu?

Beberapa contoh penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dan tidak memerlukan AB secara langsung:

1. Pilek; disebabkan oleh virus. Gejala sakit pilek biasanya hidung mampet, tenggorokan sakit, suka bersin2, batuk atau sakit kepala. Tidak perlu pemberian AB. Walaupun hidung mengeluarkan ingus berwarna hijau/ kuning, bukan berarti perlu AB.

2. Flu (influenza); gejalanya adalah demam, badan mengigil, pegal linu, sakit kepala, sakit tenggorokan, batuk kering. Tidak perlu AB.

3. Batuk; lebih sering disebabkan oleh infeksi virus dan kebanyakan batuk tidak memerlukan AB.

4. Bronchitis; gejalanya adalah batuk dan demam. Hampir selalu disebabkan oleh infeksi virus, tidak perlu pemberian AB. AB hanya diperlukan apabila ANAK TERINFEKSI BAKTERI seperti PERTUSSIS (BATUK REJAN/BATUK 100hari) atau MYCOPLASMA

5. Pharyngitis; gejalanya adalah sakit tenggorokan. Disebabkan oleh virus dan sama sekali tidak perlu pemberian AB.

6. Sinusitis; umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Tidak perlu AB, kecuali sinus yang berkepanjangan, terus berlanjut selama 2 minggu atau lebih.

Beberapa contoh penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan perlu pemberian AB;

1. Infeksi saluran kemih;

2. Infeksi telinga; ada beberapa macam infeksi telinga yang memerlukan pemberian AB, tetapi tidak semuanya perlu AB.

3. Strep throat; yaitu radang tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus, dan kemungkinan terjadi hanya 15%. Untuk mengetahui apakah radang tenggorokan disebabkan oleh bakteri Streptococcus yaitu dengan usap tenggorokan, lalu dikultur.

IV. Dampak Negatif Antibiotik

§ Efek samping

Pemakaian AB, selain dapat menghentikan infeksi bakteri, juga memiliki efek samping yang merugikan si pengguna, seperti:

1. AAD (Antibiotic Associated Diarrhea) atau disebut juga diare akibat antibiotic. Selain itu juga menyebabkan gangguan pencernaan perut lainnya seperti mual, muntah atau mulas. Gejala ini merupakan efek samping yang paling sering terjadi akibat penggunaan AB dan juga menimbulkan gejala lainnya, yaitu dehidrasi.

Apabila pemakaian ABnya berlebihan dan tidak pada tempatnya dapat mengganggu keseimbangan bakteri didalam pencernaan, karena AB membunuh bakteri yang bermanfaat bagi pencernaan, sehingga memberi kesempatan bagi bakteri jahat untuk berkembang biak. Sehingga tempat yang tadinya dihuni oleh bakteri baik digantikan oleh bakteri jahat. Kondisi ini juga disebut sebagai SUPERINFECTION.

2. Demam (drug fever). AB yang dapat menimbulkan demam bactrim, septrim, sefalosporin & eritromisin.

3. Gangguan darah. Beberapa AB dapat mengganggu sumsum tulang, salah satunya kloramfenikol.

4. Kelainan hati. AB yang paling sering menimbulkan efek ini adalah obat TB seperti INH, rifampisin dan PZA (pirazinamid).

5. Gangguan fungsi ginjal. Golongan AB yang bisa menimbulkan efek ini adalah aminoglycoside (garamycine, gentamycin intravena), Imipenem/Meropenem dan golongan Ciprofloxacin. Bagi penderita penyakit ginjal, harus hati2 mengkonsumsi AB.

6. Pada wanita, ada beberapa jenis AB yang dapat menyebabkan pil KB menjadi kurang efektif. Jadi sebaiknya menggunakan metode KB lainnya selama menggunakan AB. Selain itu, AB juga dapat mencapai fetus dan menimbulkan efek samping. Karena itu, sangat penting untuk memberitahu dokter anda apabila anda sedang hamil atau menyusui.

§ Reaksi Alergi
Mulai dari yang ringan seperti ruam, gatal sampai dengan yang berat seperti pembengkakan bibir/kelopak mata dan gangguan nafas. Apabila anda memiliki alergi terhadap AB dimasa lalu, beritahu dokter anda.

§ Antibiotic Resistance

Dari semua dampak negatif yang ditimbulkan, AB resistance (bakteri kebal terhadap AB) merupakan perhatian utama diseluruh dunia. Karena AB resistance tidak hanya merugikan si pengguna, tetapi juga berdampak luas terhadap lingkungan sekitar. Dan yang paling berbahaya apabila AB menjadi kehilangan kemampuannya untuk menghentikan infeksi bakteri (become impotent).

Contohnya, apabila ada seseorang (si A) menggunakan AB (jenis X) untuk mengobati penyakit karena infeksi virus, selain sia-sia, cepat atau lambat hal ini akan menciptakan bakteri yang tahan terhadap AB jenis X (SUPERBUGS). Lalu bakteri ini menyebar ke sekitar dan menjangkiti si B, maka yang terjadi kemudian adalah bakteri ini sudah tidak mempan oleh AB jenis X, walaupun si B belum pernah memakai AB sama sekali. Sehingga untuk mengobatinya, harus menggunakan AB jenis yang lebih kuat (jenis Y). Hal ini dapat terus berlanjut dan berulang-ulang,sehingga tercipta suatu bakteri yang kebal terhadap semua jenis AB yang ada, yang terkuat sekalipun. Lalu apa yang akan terjadi?? Tidak menutup kemungkinan dimasa mendatang tercipta kondisi dimana sudah tidak ada lagi jenis AB yang dapat menghentikan infeksi bakteri, bahkan yang paling ringan sekalipun. Apabila hal ini terjadi, maka manusia akan dihadapi kondisi seperti era dimana AB belum ditemukan, yaitu tak ada pencegahan terhadap infeksi bakteri sehingga angka kematian akan melonjak naik dengan drastis.

Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention), bisa dibilang hampir semua infeksi bakteri kelas berat menjadi kebal terhadap berbagai jenis AB. CDC memperkirakan sekitar hampir 2 juta orang setiap tahunnya di US terkena infeksi ketika berada di rumah sakit yang menyebabkan 90,000 kematian. Lebih dari 70% bakteri yang menyebabkan infeksi tersebut sudah kebal, setidaknya terhadap 1 jenis AB, yang biasanya digunakan untuk mengobatinya.

AB resistance sebenarnya bukanlah fenomena baru, melainkan sudah terjadi pertama kali tidak lama setelah AB pertama (penicillin) digunaan secara luas pada akhir tahun 1940-an. Jenis bakteri resistance ini adalah Staphylococcus aureus (S. aureus). Bakteri ini menyebabkan berbagai macam infeksi, mulai dari infeksi saluran kemih sampai dengan pneumonia. Bahkan methicillin, yang merupakan salah satu jenis AB yang paling kuat yang ada sudah tidak dapat lagi menghentikan keturunan dari bakteri S. aureus. Vancomycin, jenis AB yang paling kuat untuk menghentikan bakteri jenis ini juga mulai dikhawatirkan kehilangan keampuhannya.

“AB resistance means more visits to the doctor, a lengthier illness and possibly more toxic drugs”.

Bagaimana AB resistance timbul?

1. Alami; ada beberapa jenis bakteri yang kebal, bahkan jauh sebelum AB ditemukan. Pernah ada penelitian terhadap bakteri yang ditemukan di artic glacier, diperkirakan berusia 2,000 tahun, ternyata beberapa bakteri yang ditemukan tersebut kebal atas beberapa jenis AB.

2. Mutasi; mutasi adalah adanya perubahan genetik atau DNA, sehingga bakteri dapat melawan AB.

3. Transfer genetik; suatu jenis bakteri juga dapat menjadi kebal terhadap AB dengan cara bertukar genetik dengan bakteri lainnya yang sudah resistant, atau dapat disebut “bacterial sex”. Ini merupakan cara yang memungkinkan bakteri untuk transfer genetic material, sehingga melahirkan jenis bakteri baru yang resistant. Apalagi bila terjadi “bacterial sex” antara dua jenis bakteri yang masing-masing sudah resistant terhadapa jenis AB yang berbeda, sehingga akan tercipta bakteri yang resistant terhadap beberapa macam jenis AB sekaligus.

“The bacteria don’t care what other bacteria they’re giving their genes to”.

Menurut CDC, di US setiap tahunnya terdapat 10 juta resep AB untuk mengobati infeksi virus, dimana hal ini tidak memberikan manfaat, seperti kita semua ketahui. Beberapa alasan mengapa hal ini dapat terjadi:

1. Diagnostic uncertainty.

2. Time pressure.

3. Patient Demand.

“People don’t want to miss work or they have a sick child who kept the family up all night and they’re willing to try anything that might work”. It’s easier for the physician to give AB than to explain why it might be better not to use it.

Selain masalah AB resistance diatas, yang menjadi perhatian para ahli kesehatan adalah meningkatnya penggunaan bahan anti bakteri atau desinfektan pada produk-produk sabun, detergent, lotion dan household items lainnya. Padahal menurut Stuart Levy, president of the Alliance for the Prudent Use of Antibiotics (Persekutuan untuk Penggunaan Antibiotik Dengan Bijaksana), selama ini belum ada bukti bahwa penggunaan desinfektant memberikan manfaat yang nyata kepada kesehatan masyarakat, karena pada umumnya bakteri dirumah tidak berbahaya atau temasuk bakteri baik. Cukup menggunakan sabun dan air yang bagus. Sebaiknya penggunaan desinfektant hanya dibatasi di rumah sakit atau ketika di rumah ada orang sakit yang kekebalan tubuhnya rendah (pasca transplantasi, anak penyakit kronis yang memperoleh steroid dan lain-lain).

V. Bagaimana Kita Membantu?
Tips untuk menghindari pemakaian AB yang berlebihan atau tidak pada tempatnya:

1. Jangan minta atau gunakan AB untuk penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus. Mari rubah mind set kita ketika mengunjungi dokter, dengan bertanya “Apa penyebab penyakitnya dok?” bukan “Apa obatnya dok?!”. Untuk menghindari Patient Demand.

2. Apabila memang perlu menggunakan AB, mulailah dengan menggunakan jenis AB yang ringan atau narrow spectrum.

3. Hindari pemakaian lebih dari 1 jenis AB, kecuali untuk TBC atau infeksi berat dirumah sakit.

4. Habiskan semua AB yang diresepkan, walaupun anda sudah merasa baikan. Apabila tidak dihabiskan, AB mungkin belum membunuh semua infeksi bakteri yang ada, sehingga memberi kesempatan bakteri yang tersisa untuk menjadi resistant.

5. Jangan pernah sharing AB, maksudnya adalah jangan mengkonsumsi AB orang lain atau sebaliknya, walaupun gejala penyakitnya sama.

Semakin sering dan semakin lama kita makan antibiotik, semakin besar risiko terbentuknya superbugs dan semakin meningkat pula risiko superinfection.
SEMAKIN SERING MENGKONSUMSI ANTIBIOTIK, SEMAKIN SERING KITA SAKIT.

Selain tips diatas, ada beberapa pertanyaan yang sebaiknya anda ajukan ketika dokter anda meresepkan AB, yaitu:

1. Mengapa saya perlu AB?

2. Apa yang dilakukan AB?

3. Apa efek sampingnya?

4. Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya efek samping?

5. Apakah AB harus diminum pada waktu tertentu, misalnya sebelum atau sesudah makan?

6. Bagaimana bila AB ini dimakan bersamaan dengan obat yang lain?

7. Beritahu pula bila anda mempunyai alergi terhadap suatu obat atau makanan, dll. Sehingga dokter dapat memikirkan metode pengobatan yang terbaik bagi anda.

The less you consume antibiotics, the less frequent you get sick.
Kim Mulholland

VI. Penutupan
Masalah AB resistance bukan hanya masalah dokter dan para ilmuwan saja, tapi ini juga merupakan masalah kita bersama. Semua pihak seharusnya terlibat didalam menangani hal ini, karena IRRATIONAL DOCTOR AND IRRATIONAL CONSUMERS THAT LEAD TO IRRATIONAL USE OF ANTIBIOTICS. Oleh karena itu mari kita bersama-sama untuk menyelamatkan antibiotik, karena selama ini antibiotik telah menyelamatkan kita semua. Yaitu dengan cara menjadi konsumen kesehatan yang SMART AND CRITICAL

Sebagai konsumen kesehatan yang “bertanggung jawab”, kita harus berperan aktif “melindungi diri kita dan keluarga kita” dengan cara, menggali dan mencari pengetahuan kedokteran serta belajar memahami kondisi yang kita alami. Dengan berbekal pengetahuan dasar ilmu kesehatan, maka Insya Allah, kita akan menjadi konsumen kesehatan yang “smart and critical”.

Semoga bermanfaat!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Maret 2010 in Kesehatan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: