RSS

JANJIAN MAKAN MALAM DENGAN SEORANG WANITA

24 Okt

Sesudah menikah 21 tahun, istri saya meminta saya agar mengundang seorang wanita lain untuk makan malam dan nonton sebuah film.

Dia katakan:
“Saya cinta padamu, tapi saya tau bahwa perempuan yang satu ini juga sangat cinta padamu dan sangat ingin meluangkan waktu denganmu”.

Ternyata perempuan yang dimaksud istri saya itu adalah ibu saya yang sudah menjanda selama 22 tahun.

Namun kesibukan saya sebagai Pemred dan menyingkirkan waktu untuk ke3 anak saya hanya memungkinkan saya untuk bertemu dengan ibunda saya sekali sekali. Mungkin sekali sebulan saja.

Malam itu saya menelpon beliau untuk mengajaknya makan berdua dan nonton film berdua.

Ia bertanya:
“Ada apa, keluarga kamu baik2, kamu sakit?”

Ibu saya adalah tipe wanita yang selalu curiga kalau ada telepon masuk malam hari, dan adanya undangan yang tiba2, dan bahwa itu adalah pertanda tidak baik atau berita duka.

Saya jawab:
“Oh bukan. Saya pikir menyenangkan untuk dapat menghabiskan waktu bersama Ibu. Hanya kita berdua”.

Sejenak ia berpikir kemudian mengatakan:
“Sangat menyenangkan dan saya suka bersama kamu”.

Hari Jumat itu sepulang kerja, dalam perjalanan menjemputnya, saya merasa agak gugup dan nervous.

Pada waktu saya sampai di rumahnya, saya melihat ia sudah menunggu di depan pintu rumahnya dan ibupun kelihatan agak nervous mengenai janjian kita.

Ia berdiri di depan pintu, memakai sehelai kain penutup lehernya. Kelihatannya dia baru pulang dari Salon kecantikan. Rambut disisir rapih, kelihatannya sangat cantik, dan ia memakai baju yang terakhir dipakainya pada hari ulang tahun perkawinan terakhir yang ia rayakan bersama almarhum ayah saya.

Ia tersenyum, terharu, gembira bagaikan 1000 mailakat yang menghiasi mukannya.

Sambil masuk ke dalam mobil ia katakan:
“Nak, aku bercerita pada teman2ku bahwa anakku akan ajak saya keluar makan malam dan nonton film berdua. Teman-temanku sangat kagum bahwa kamu akan mengajakku pergi.

Mereka semua menunggu mau tau cerita mengenai malam ini”.

Kita masuk sebuah restoran yang sederhana. Namun sangat cantik dan romantis.

Ibu memegang tangan saya seperti layaknya ia seorang ibu Negara.

Sesudah kita duduk, saya membacakan daftar makanan. Setengah jalan saya menoleh kepada ibu saya dimana Ibu sedang menatap saya dengan satu senyuman nostalgia yang terlihat pada bibirnya.

Dia mangatakan:
“Waktu kamu masih kecil ibu yang bacakan daftar makanan buatmu”.

Saya menjawab:
“Nah ibu, kalau begitu sudah waktunya ibu rilek saja. Sekarang saya yang melakukannya untukmu”.

Sambil makan kami berbincang mengenai segala macam yang indah, tanpa adanya perbedaan pendapat dan hanya kesepakatan.
Seru sekali, saling menceritakan mengenai kesibukan kita masing2 dan menceritakan bagaimana cepatnya cucu2nya bertambah besar.

Kita bicara dan ngobrol sampai kita lupa bahwa kita masih mempunyai acara untuk pergi nonton.

Sampai di rumah malam itu ia mengatakan:
“Saya mau ajak kamu makan lagi….. Asal kamu setuju saya yang membayar”.

Saya pun setuju.

Sampai di rumah istri saya bertanya:
“Bagaimana makan malamnya dan janjiannya dengan Ibumu?”

Saya menjawab :
“Sangat menyenangkan, lebih dari yang pernah saya pikirkan dan bayangkan”.

Beberapa hari kemudian, Ibu saya meninggal karena serangan jantung berat. Begitu cepatnya segala berlalu sampai saya sudah tidak dapat berbuat apa2 lagi baginya.

Beberapa hari kemudian saya menerima surat dalam amplop yang berisi pembayaran restoran yang sama, untuk makanan malam karena Ibu merencanakan untuk mengundang saya.

Terlampir ada catatan kecil:
“Saya membayar bon makan ini karena saya tidak terlalu yakin saya dapat berada disana bersama kamu, nak”

Tapi saya bayar untuk dua orang, buat kamu dan istrimu. Anakku, kamu tidak dapat membayangkan bagaimana nilai dan artinya malam tersebut bagi saya. Aku sayang padamu”.

Pada  saat itu aku sadar, artinya dan pentingnya kita mengatakan:
“Aku sayang padamu – I love you”
dan menyiapkan maupun menyisakan waktu untuk mereka yang kita sayangi dan berhak atas cinta dan perhatian kita.

Tidak ada yang lebih penting di dunia dari pada cinta dan Tuhan. Berikan mereka waktu yang merupakan haknya, karena ini tidak dapat diundur “Sampai Lain Kali “

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Oktober 2014 in Pelajaran Hidup

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: