RSS

📚 KISAH MANTAN SEORANG GURU TELADAN & PLAKAT-PLAKATNYA

10 Nov

Pak Hamid duduk termangu. Dipandanginya benda-benda yg berjajar di depannya dengan masygul. Bertahun-tahun dimilikinya dengan penuh kebanggaan.
Dirawat dengan baik hingga selalu bersih dan mengkilap.
Jika ada orang yg bertanya, Pak Hamid akan bercerita dengan penuh kebanggaan.
Siapa yg tidak bangga memiliki benda-benda itu..?

Berbagai plakat penghargaan yg diterimanya selama 35 tahun pengabdiannya sebagai guru di daerah terpencil. Daerah terisolasi yg tidak diminati oleh guru-guru yg lain.
Namun Pak Hamid ikhlas menjalaninya, walau dengan gaji yg tersendat dan minimnya fasilitas sekolah..
Cinta Pak Hamid pada anak-anak kecil yg bertelanjang kaki dan rela berjalan jauh untuk mencari ilmu, mampu menutup keinginannya untuk pindah ke daerah lain yg lebih nyaman..

Kini masa itu sudah lewat. Masa pengabdiannya usai sudah pada usianya yg keenam puluh. Meskipun berat hati, Pak Hamid harus meninggalkan desa itu beserta keluarganya..

Mereka tinggal di rumah peninggalan mertuanya di pinggir kota. Jauh dari anak didik yg dicintainya, jauh dari jalan tanah, sejuknya udara dan beningnya air yg selama ini menjadi nafas hidupnya..

“Hei, jualan jangan sambil melamun..!” teriak pedagang kaos kaki di sebelahnya. Pak Hamid tergagap..

“Tawarkan jualanmu itu pada orang yg lewat. Kalau kamu diam saja, sampek elek ra bakalan payu..!” (smp jelek tdk akan laku), kata pedagang akik di sebelahnya.
“Jualanmu itu menurutku agak aneh..” ujar pedagang kaos kaki lagi.
“Apa ada yg mau beli barang-barang seperti itu..? Mungkin kamu mesti berjualan di tempat barang antik. Bukan di kaki lima seperti ini..”

Pak Hamid tak menjawab. Itu pula yg sedang dipikirkannya. Siapa yg tertarik untuk membeli plakat-plakat itu..? Bukanlah benda-benda itu tidak ada gunanya bagi orang lain, sekalipun sangat berarti baginya..?

“Sebenarnya kenapa sampai kau jual tanda penghargaan itu..?” tanya pedagang akik.
“Saya butuh uang..”
“Apa istri atau anakmu sedang sakit..?”
“Tidak.. Anak bungsuku hendak masuk SMU. Saya butuh uang untuk membayar uang pangkalnya..”

“Kenapa tidak ngutang dulu. Siapa tahu ada yg bisa membantumu..”
“Sudah.. Sudah kucoba kesana-kemari, namun tak kuperoleh juga..”

“Hei, bukankah kau punya gaji.. eh.. pensiun maksudku..”
“Habis buat nyicil motor untuk ngojek si sulung dan buat makan sehari-hari..”

Penjual akik terdiam. Mungkin merasa maklum, sesama orang kecil yg mencoba bertahan hidup di kota dengan berjualan di kaki lima. “Kau yakin jualanmu itu akan laku..?” penjual kaos kaki bertanya lagi setelah beberapa saat. Matanya menyiratkan iba. “In syaa Allah. Jika Allah menghendaki aku memperoleh rejeki, maka tak ada yg dapat menghalanginya..”

Siang yg panas. Terik matahari tidak mengurangi hilir mudik orang-orang yg berjalan di kaki lima itu. Beberapa orang berhenti, melihat-lihat akik dan satu dua orang membelinya. Penjual akik begitu bersemangat merayu pembeli. Rejeki tampaknya lebih berpihak pada penjual kaos kaki. Lebih dari dua puluh pasang kaos kaki terjual. Sedangkan jualan Pak Hamid, tak satupun yg meliriknya..

Keringat membasahi tubuh Pak Hamid yg mulai renta dimakan usia. Sekali lagi dipandanginya plakat-plakat itu. Kegetiran membuncah dalam dadanya. Berbagai penghargaan itu ternyata tak menghidupinya. Penghargaan itu hanya sebatas penghargaan sesaat, yg kini hanya tinggal sebuah benda tak berharga.
Sebuah ironi yg sangat pedih..

Tak terbayangkan sebelumnya. Predikatnya sebagai guru teladan bertahun yg lalu, tak sanggup menghantarkan anaknya memasuki sekolah SMU. Sekolah untuk menghantarkan anaknya menggapai cita-cita, yg dulu selalu dipompakan ke anak-anak didiknya. Saat kegetiran dan keputus-asa-an masih meliputinya, Pak Hamid dikejutkan oleh sebuah suara..

“Bapak mau jual plakat-plakat ini..?” seorang lelaki muda perlente berjongkok sambil mengamati jualan Pak Hamid. Melihat baju yg dikenakannya dan mobil mewah yg ditumpanginya, ia sepertinya lelaki berduit. Pak Hamid tiba-tiba berharap..

“Ya.. ya.., saya memang menjual plakat-plakat ini..” jawab Pak Hamid gugup. “Berapa bapak jual setiap satuannya..?”
Pak Hamid berfikir, berapa ya..? Bodoh benar aku ini. Dari tadi belum terpikirkan olehku harganya..
“Berapa, Pak..?” “Eee.. tiga ratus ribu..” “Jadi semuanya satu juta lima ratus. Boleh saya beli semuanya..?”

Hah..! Dibeli semua, tanpa ditawar lagi..! Kenapa tidak kutawarkan dengan harga yg lebih tinggi..? Pikir Pak Hamid sedikit menyesal. Tapi ia segera menepis sesalnya. Sudahlah, sudah untung bisa laku..

“Apa bapak punya yg lain. Tanda penghargaan yg lain misalnya..”

Tanda penghargaan yg lain..? Pak Hamid buru-buru mengeluarkan beberapa piagam dari tasnya yg lusuh. Piagam sebagai Peserta Penataran P4 Terbaik, piagam Guru Matematika Terbaik se kabupaten, bahkan piagam sebagai Peserta Jambore dan lain-lain piagam yg sebenarnya tidak begitu berarti. Semuanya ada sepuluh buah..

“Bapak kasih harga berapa satu buahnya..?” “Dua ratus ribu..” Hanya itu yg terlintas di kepalanya.
“Baik. Jadi semuanya seharga tiga juta lima ratus ribu. Bapak tunggu sebentar, saya akan ambil uang di bank sana itu..” kata lelaki perlente itu sambil menunjuk sebuah bank yg berdiri megah tak jauh dari situ..

“Ya.. ya.., saya tunggu..” kata Pak Hamid masih tak percaya..

Menit-menit yg berlalu sungguh menggelisahkan. Benarkah lelaki muda itu hendak membeli plakat-plakat dan berbagai tanda penghargaannya? Atau dia hanya penipu yg menggoda saja..? Pak Hamid pasrah..

Tapi nyatanya, lelaki itu kembali juga akhirnya dengan sebuah amplop coklat di tangannya. Pak Hamid menghitung uang dalam amplop, lalu buru-buru membungkus plakat-plakat dan berbagai tanda penghargaan miliknya dengan kantong plastik, seakan-akan takut lelaki muda itu berubah pikiran..

Dipandangnya lelaki muda itu pergi dengan gembira bercampur sedih. Ada yg hilang dari dirinya. Kebanggaan atau mungkin juga harga dirinya. Pak Hamid kini melipat alas dagangannya dan segera beranjak meninggalkan tempat itu, meninggalkan pedagang akik dan kaos kaki yg terbengong-bengong. Entah apa yg mereka pikirkan. Namun, ia tak sempat berfikir soal mereka, pikirannya sendiri pun masih kurang dapat mempercayai apa yg baru saja terjadi..

“Lebih baik pulang jalan kaki saja. Mungkin sepanjang jalan aku bisa menata perasaanku. Sebaik mungkin. Aku tidak ingin istriku melihatku merasa kehilangan plakat-plakat itu. Aku tidak ingin ia melihatku menyesal telah menjualnya. Karena aku ingin anakku sekolah, aku ingin dia sekolah..!” Pak Hamid bertutur panjang dalam hati..

Ia melangkah gontai menuju rumah. Separuh hatinya begitu gembira, akhirnya si bungsu dapat sekolah. Tiga setengah juta cukup untuk membiayai uang pangkal dan beberapa bulan SPP. Namun, separuh bagian hatinya yg lain menangis, kehilangan plakat-plakat itu, yg sekian tahun lamanya selalu menjadi kebanggaannya..

Jarak tiga kilometer dan waktu yg terbuang tak dipedulikannya. Sesampainya di rumah, istrinya menyambutnya dengan wajah khawatir..

“Ada apa, Pak..? Apa yg terjadi denganmu..? Tadi ada lelaki muda yg mencarimu. Dia memberikan bungkusan ini dan sebuah surat. Aku khawatir sampeyan ada masalah..”

Pak Hamid tertegun. Dilihatnya kantong plastik hitam di tangan istrinya. Sepertinya ia mengenali kantong itu. Dibukanya kantong itu dengan terburu-buru. Dan.. plakat- plakat itu, tanda penghargaan itu ada di dalamnya..! Semuanya..! Tak ada yg berkurang satu bijipun..! Apa artinya ini..? Apakah lelaki itu berubah pikiran..? Mungkin ia bermaksud mengembalikan semuanya. Atau mungkin harga yg diberikannya terlalu mahal..

Batin Pak Hamid bergejolak riuh. Segera dibukanya surat yg diangsurkan istrinya ke tangannya.
Sehelai kartu nama terselip di dalam surat pendek itu.
Pak Hamid yg saya cintai, Saya kembalikan plakat-plakat ini. Plakat-plakat ini bukan hanya berarti untuk Bapak, tapi juga buat kami semua, murid-murid Bapak. Kami bangga menjadi murid Bapak. Terima kasih atas semua jasa Bapak..

Gunarto, lulusan tahun 75..

Tak ada kata-kata. Hanya derasnya air mata yg membasahi pipi Pak Hamid..👍🌹👍

Posted from WordPress for Android

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 November 2015 in Pelajaran Hidup

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: