RSS

​LELAH HATI INI…

24 Nov

Suatu hari, seorang anak mengeluh kepada ayahnya yang sedang bekerja. “Ayah, boleh aku bicara?” kata sang Anak. 

“Ada apa, nak?”  tanya sang Ayah. 

Sang Ayah kemudian duduk disamping anaknya dan berkata, “ayo ceritakan nak,  Ayah akan mendengarkan.” 
“Aku lelah, sangat lelah hati ini,  ayah…”
“Aku lelah karena Aku belajar mati-matian untuk mendapat nilai bagus, sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…

Aku mau menyontek saja!Aku lelah, sangat lelah.”
_”Aku lelah karena aku harus terus membantu Ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, _

Aku ingin Kita punya pembantu, ayah.!”
“… Aku lelah, sangat lelah …”
“Aku lelah karena Aku harus menabung,

_sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung… _ 

Aku ingin jajan terus! …”
“Aku lelah,  karena Aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman-teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku ..”
“Aku lelah, sangat lelah karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai Aku sakit hati…”
“Aku lelah Ayah, menahan diri seperti ini…

Aku ingin seperti mereka… mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka Ayah ! ..” sang Anak mulai menangis…
Sang Ayah hanya tersenyum 

dan mengelus kepala anaknya sambil berkata 

”Anakku ayo ikut Ayah, Ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu.”
Lalu sang Ayah menarik tangan sang Anak. Kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek dan berbatu, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang.
Sang anak pun mulai mengeluh. 

_”Ayah mau kemana Kita” ?? Aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. Badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah karena ada banyak ilalang. Aku benci jalan ini Ayah.” _
Sang Ayah hanya diam.
Akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat Indah, airnya sangat jernih dan segar, hawanya begitu sejuk, ada banyak kupu kupu, bunga – bunga yang cantik, dan pepohonan yang sangat rindang.
“Wwaaaah…

_Tempat apa ini ayah?  Aku suka!  Aku suka tempat ini!”. _
Sang Ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping Ayah” ujar sang Ayah. 
Lalu sang Anak pun ikut duduk di samping Ayahnya.
”Anakku, tahukah Kau mengapa di sini begitu sepi?  padahal tempat ini begitu indah?”
”Tidak tahu Ayah, memangnya kenapa?”
”Itu karena orang – orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa Bersabar dalam menyusuri jalan itu.”
” Ooh…  berarti Kita termasuk orang yang Sabar ya Yah, Alhamdulillah…”
”Nah, akhirnya Kau mengerti.”

”Mengerti apa?  aku tidak mengerti.”
“Anakku,…

butuh Kesabaran dalam belajar,

butuh Kesabaran dalam bersikap baik, 

butuh Kesabaran dalam Kejujuran,

butuh Kesabaran dalam setiap kebaikan, 

agar Kita mendapat Kemenangan, seperti jalan yang tadi.”
“Bukankah kau harus Sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus Sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus Sabar melewati ilalang dan kau pun harus Sabar saat dikelilingi serangga. Dan akhirnya semuanya terbayar kan?”
“Ada telaga yang sangat Indah. Seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat?  Kau tidak akan mendapat apa apa Anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku.”
”Tapi Ayah, tidak mudah untuk Bersabar.”
“Ayah tahu, oleh karena itu ada Ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat.

Begitu pula dalam hidup ini, ada Ayah dan Ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu.”
“Tapi ingatlah Anakku…

Ayah dan Ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti,

Kau harus bisa berdiri sendiri, maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri. Seorang pemuda beragama yang kuat, yang tetap tabah dan Sabar maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang, maka kau tau akhirnya kan?”
“Ya Ayah,  Aku paham…  

Aku akan dapat Surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini. Sekarang aku mengerti. Terima kasih Ayah, Aku akan tetap SABAR dan TEGAR saat yang lain TERLEMPAR…”
“Ayah sangat menyayangimu Anakku.

Jika kelak kau dewasa, maka jadilah seperti air yang ada di telaga ini. Begitu indah dan bersih. Ia menjadi sumber kekuatan dan kehidupan bagi apapun dan siapapun yang ada disekitarnya.
Air inilah yang menjadikan Bunga itu tampak begitu Cantik dan begitu banyak pohon rindang disini.
Jadilah kau kelak seperti itu…”
“Menjadi sumber kekuatan dan kehidupan bagi orang2 di sekelilingmu…”
***

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2016 in Pelajaran Hidup

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: